Dari suaranya saya bisa tahu ini wanita api, sex appealnya memang kuat. Lagi hot-hotnya. Dia ngaku sudah beberapa kali melakukan hubungan intim dengan pria yg bukan muhrimnya. Pernah sama bule juga, pedahal bule barangnya gede. Dan wanita ini suka bosen juga, atau worry ketahuan. Because of that, saya ajarin untuk mengusir pria yg tidak lagi disukai, karena pria-pria lainnya sudah mengantri. Tinggal pilih aja.
Saya sarankan untuk tulis ke saya lewat email atau inbox di facebook, tetapi dia tidak mau. Maunya bicara saja di HP. So be it, saya dengarkan curahan hatinya. Nggak sedih lah, kalau saya dengar malahan ini wanita yg happy. Happy karena sudah bisa menemukan dirinya sendiri yg, walaupun jelas masuk kategori wanita gatel, ternyata tidak seorang diri karena dimana-mana juga banyak lelaki gatel.
Teman wanita ini bertanya, kenapa ketika suaminya sendiri selingkuh dia bisa bersabar dan diam saja; tetapi kini ketika suaminya tobat, dia sendiri yg mulai selingkuh. Saya jawab, it's very normal, karena kita manusia bukan robot. Kita perlu waktu untuk mencerna pengalaman kita. Kita perlu belajar mengamati orang yg selingkuh, sebelum kita sendiri menceburkan diri ke lembah perselingkuhan.
Dan belum tentu itu akan berlangsung selama-lamanya. Sebagian orang bosan setelah selingkuh bertahun-tahun, sebagian lagi tidak bosan-bosannya. Teman wanita ini usianya 34 tahun, dan selingkuhannya berkisar di usia sekian sampai 40-an, bukan dengan model gigolo melainkan kontolz executive, artinya bermodal juga, professional. She is a professional woman, dan selingkuhannya juga professional. Itu oke. - Model main gigolo juga ada, tapi yg ini bukan, ini tanpa bayaran, suka sama suka, barter kontolz with memex.
Is it part of spirituality? - Menurut saya ya, spirituality is closely related to sexuality. Kalau sex lagi kuat-kuatnya, kenapa harus ditekan? Kalau ditekan justru jadi sakit. Kalau si suami sudah melemah syahwatnya, masih banyak suami orang yg bersedia menjadi penggantinya. As simple as that.
Saya bilang, kita manusia paska modern, kita tidak kalah dengan bule, cara berpikir kita sudah sama dengan orang bule. Nah, karena levelnya sudah sampe, untuk apa kita memaksakan diri masuk kotak-kotak seperti disyaratkan oleh orang jaman dulu? Tidak ada lagi itu kisah istri baik-baik atau suami baik-baik, sekarang yg ada cuma baik karena mau. Mau baik jadilah baik. Mau selingkuh juga bisa jadi baik, asal pasangannya mau terima. Kalau the pasangan tidak mau terima, sedangkan si wanita ini masih gatel terus, mendingan cerai saja. Daripada sakit jiwa, lebih baik hidup menjadi diri sendiri, dan sehat lahir batin.
Untuk anda yg belum tahu, selingkuh bukan kriminal. Bukan perbuatan pidana. Yg dirugikan kalau anda selingkuh adalah pasangan resmi anda, yaitu suami atau istri anda. Orang lain tidak dirugikan. Dan kalau suami atau istri tidak terima pasangannya selingkuh, maka bisa menggugat cerai. Kalau bisa terima, ya sudah. Jalan terus saja.
Orang Indonesia kan banyak yg goblox, mengira selingkuh itu kejahatan. Pedahal bukan. Selingkuh bukan kejahatan karena dilakukan atas dasar suka sama suka. Yg kejahatan adalah perkosaan karena dilakukan dengan pemaksaan. Kalau sukarela, maka itu bukan kejahatan, bukan kriminal, bukan pidana. Melainkan pilihan, in this case sama-sama gatel, dan sama-sama garux garux...
Untuk anda yg belum tahu, terror terhadap pelaku selingkuh cuma dilakukan di hotel-hotel melati, yg dikunjungi oleh mereka yg budgetnya terbatas tapi sudah ngebet pengen ngentotz. Di hotel-hotel bintang 5 tidak pernah dilakukan razia surat nikah, dlsb... Razia begituan cuma diterapkan untuk orang-orang kelas menengah bawah, yg memang penuh ketakutan. Orang-orang kelas menengah atas tidak ketakutan seperti itu. Mereka tahu bisa ML dengan siapa saja, asal suka sama suka; dan itu bukan kejahatan, bukan pidana.
Saya bilang kepada teman wanita yg menelpon saya itu. Saya bilang: Anda milik diri anda sendiri. Pernikahan tidak membuat anda menjadi budak. Anda bukan milik suami anda, dan suami anda bukan milik anda. Anda tetap milik diri anda sendiri, bisa melakukan apapun yg anda ingin lakukan. Kalau suami anda tidak suka dengan apa yg anda lakukan, biarkan saja dia menggugat cerai.
Segala macam salah kaprah dilestarikan di Indonesia, seolah-olah merupakan kejahatan berhubungan sex kalau tidak diikat dalam hubungan pernikahan. Pedahal itu bukan kejahatan, itu merupakan urusan pribadi masing-masing, privasi tiap orang, baik untuk berhubungan sex dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Yg merupakan kejahatan adalah pemaksaan, kalau anda memaksa orang lain untuk ngentotz dengan anda, maka itu termasuk kejahatan; memaksa istri atau suami sendiri untuk ngentotz dengan anda juga termasuk kejahatan; itu kriminal, pidana.
Berhubungan sex dengan anak di bawah umur (17 tahun ke bawah) juga termasuk kejahatan, walaupun atas dasar suka sama suka. Apabila anda sudah masuk kategori dewasa, dan anda berhubungan sex dengan anak berusia 15 tahun, misalnya, maka anda berbuat kejahatan, namanya melakukan hubungan sex dengan anak di bawah umur. Pada pihak lain, sesama anak di bawah umur yg melakukan hubungan sex tidak bisa diapa-apakan. Kalau sepasang anak berusia 15 tahun ngentotz atas dasar suka sama suka, maka tidak ada yg bisa disalahkan. They are just horny.
Wanita bersuami yg berhubungan sex dengan suami orang juga tidak bisa disalahkan. Baik wanita maupun pria yg terlibat tidak bisa disalahkan apabila perbuatan itu dilakukan atas dasar suka sama suka. Mereka tidak melanggar hukum. So, kita yg berpendidikan harus mulai berbicara dan menulis apa adanya. Jangan histeris, jangan kampungan, ini abad ke 21 M, sudah tidak pantas kita melestarikan salah kaprah. Think clearly, it's part of spirituality too.
For your info, saya paling tidak sabar memberikan konseling kepada istri-istri yg mau membuktikan suaminya selingkuh sebelum bisa berbicara keras. Kenapa? Karena istri-istri berselingkuh juga banyak konseling ke saya. Life is beautiful, kenapa harus dibikin ribet? Kalau tidak suka, gugat cerai saja, dengan alasan: tidak cocok. Kalau suka, teruskanlah, bisa pake jurus tutup mata tapi belalai jalan terus.
So, kalau dalam pernikahan ada pihak yg merasa dirugikan, langsung gugat cerai saja; jangan cengeng, bukan sinetro. Jangan ngomongin anak dulu, omongin soal itu laki bini dulu, kalau sudah tidak cocok tapi tetap dipertahankan, malah akan merusak semuanya; kalau sudah tidak cocok, semakin cepat operasinya semakin baik. Life is like that, makanya jangan sok suci, siapa tahu anda yg gatel duluan dan ketemu pasangan selingkuh yg pas dan bilang subhanalloh, sesuatu banget.
Kita tidak menghakimi mereka yg selingkuh. Saya tidak mendorong dan tidak pula menghalangi karena ini merupakan bagian dari privasi orang, suka-suka orang. Tentu saja konsekwensinya ditanggung sendiri-sendiri. Bukan darma dan karma, tapi aksi dan konsekwensi.
*LR*

0 comments:
Post a Comment