10 Kebiasaan yang Merusak Otak
1. Tidak Mau Sarapan
Banyak orang yang menyepelekan sarapan. Padahal tidak mengkonsumsi apapun di pagi hari menyebabkan turunnya kadar gula dalam darah. Hal ini berakibat pada kurangnya masukan nutrisi pada otak yang akhirnya berakhir pada kemunduran otak. Sarapan yang terbaik di pagi hari bukanlah makanan berat seperti nasi goreng spesial, tetapi cukup air putih dan segelas jus buah segar. Ringkas dan berguna untuk tubuh!
2. Kebanyakan Makan
Terlalu banyak makan mengeraskan pembuluh otak yang biasanya menuntun orang pada menurunnya kekuatan mental. Jadi makanlah dalam porsi yang normal. Biasakan menahan diri dengan cara berhenti makan sebelum Anda kekenyangan.
3. Merokok
Jika rokok memiliki segudang efek buruk, semua orang pasti sudah tahu. Dan ada satu lagi efek buruk rokok yang terungkap di sini. Merokok ternyata berakibat sangat mengerikan pada otak! Bayangkan, otak manusia lama kelamaan bisa menyusut dan akhirnya kehilangan fungsi-fungsinya karena rajin menghisap benda berasap itu. Tak ayal di waktu tua bahkan pada saat masih muda sekalipun, kita rawan alzheimer (alzheimer adalah penyakit pikun).
4. Terlalu Banyak Mengkonsumsi Gula
Terlalu banyak asupan gula akan menghalangi penyerapan protein dan gizi sehingga tubuh kekurangan nutrisi dan perkembangan otak terganggu. Karena itu, kurangi konsumsi makanan manis favorit Anda5.
Otak adalah bagian tubuh yang paling banyak menyerap udara. Terlalu lama berada di lingkungan dengan udara berpolusi membuat kerja otak tidak efisien.
6. Kurang Tidur
Tidur memberikan kesempatan otak untuk beristirahat. Sering melalaikan tidur membuat sel-sel otak menjadi mati kelelahan. Tapi jangan juga kebanyakan tidur karena bisa membuat Anda menjadi pemalas yang lamban. Sebaiknya tidur 6-8 jam sehari agar sehat dan bugar.
7. Menutup Kepala Ketika Sedang Tidur
Tidur dengan kepala yang ditutupi merupakan kebiasaan buruk yang sangat berbahaya karena karbondioksida yang diproduksi selama tidur terkonsentrasi sehingga otak tercemar. Jangan heran kalau lama kelamaan otak menjadi rusak.
8. Berpikir Terlalu Keras Ketika Sedang Sakit
Bekerja keras atau belajar ketika kondisi tubuh sedang tidak fit juga memperparah ketidakefektifan otak. Sudah tahu sedang tidak sehat, sebaiknya istirahat total dan jangan forsir otak Anda.
9. Kurangnya Stimulasi Otak
Berpikir adalah cara terbaik untuk melatih kerja otak. Kurang berpikir akan membuat otak menyusut dan akhirnya tidak berfungsi maksimal. Rajin membaca, mendengar musik dan bermain (catur, scrabble, dll) membuat otak Anda terbiasa berpikir aktif dan kreatif.
10. Jarang Bicara
Percakapan intelektual biasanya membawa efek bagus pada kerja otak. Jadi jangan terlalu bangga menjadi pendiam. Obrolan yang bermutu sangat baik untuk kesehatan Anda.
Pages
Komando Pasukan Khusus & 10 Tahum Reformasi
Rabu, 16 April 2008 07:29 WIB
Baret Merah dan 10 Tahun Reformasi
Ditulis oleh : Aris Santoso, Pengamat TNI
Saat masih menjadi Komandan Kopassus (1992-1993), Brigjen TNI Tarub (terakhir Kasum TNI, pangkat letjen), pernah mengatakan, "Sekarang adalah kondisi ketidakpastian yang membuat kita harus lebih siap lagi." Meski telah dilontarkan sekitar 15 tahun berselang, pernyataan tersebut masih terdengar relevan. Satu dasawarsa pascareformasi, secara gamblang kita menyaksikan belum adanya perbaikan berarti, khususnya bagi perbaikan kualitas kehidupan rakyat. Bukan hanya pada aspek konkret, seperti soal pemenuhan sembako, melainkan juga pada aspek moril, seperti semakin merosotnya martabat kita sebagai bangsa.
Kopassus, sebagai satuan elite TNI yang sudah terpandang sejak kelahirannya (16 April 1952), kiranya dapat memberi makna pada aspek moril tersebut. Bahwa di tengah miskinnya aset kebanggaan, masih ada Kopassus yang bisa sedikit 'menyelamatkan' wajah kita di hadapan bangsa-bangsa lain, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Bukan berlebihan, setidaknya ada dua negara di Asia Tenggara yang pembentukan pasukan komandonya banyak didukung oleh Kopassus yaitu Kamboja dan Malaysia. Bahkan di Malaysia terdapat asosiasi yang menghimpun alumni pendidikan komando di Batujajar bernama KBKM (Kelab Bekas Komando Malaysia).
Seiring dengan semakin terbatasnya palagan pertempuran, satuan seperti Kopassus menjadi semakin jarang diturunkan, namun bukan berarti peran Kopassus menjadi berkurang. Bila mengutip pernyataan Jenderal Tarub di atas, dalam kondisi ketidakpastian, berarti unit Sandi Yudha dan kontra teror (Satgultor 81) justru semakin dibutuhkan keberadaannya. Kemampuan Kopassus di bidang intelijen (sandi yudha) dan kontra teror tentu bisa memberi efek penangkalan (deterrent effect), terutama bagi pihak luar. Karena di masa depan, diperkirakan, kecil kemungkinan akan adanya perang terbuka di kawasan Asia Tenggara yang lebih mungkin adalah perang opini dan psywar, seperti berlomba-lomba dalam modernisasi alutsista dan provokasi kecil-kecilan antarnegara di wilayah perbatasan.
Nasionalisme dan kesejahteraan
Dalam hal alutsista, posisi Kopassus sedikit diuntungkan karena sifat kesenjataannya. Dari aspek teknologi, persenjataan perseorangan Kopassus (Gariel dan MP5), masih bisa diandalkan hingga beberapa tahun ke depan. Kopassus tidak menghadapi problem seperti satuan lain di matra darat, seperti satuan rudal dengan alustsista padat teknologi dan harus selalu diperbarui menjadikan harganya sangat mahal. Belum lagi kalau kita bicara soal keterbatasan alutsista di matra laut dan matra udara, jelas lebih kompleks lagi. Tiadanya masalah dalam alutsista merupakan hal kondusif bagi Kopassus untuk mempertahankan reputasinya sebagai satuan Komando yang disegani pasukan negara lain.
Pada April 2007, KSAD Jenderal TNI Djoko Santoso (kini Panglima TNI) meresmikan berdirinya lima brigade infanteri (brigif) baru. Sebuah peristiwa penting sebenarnya, bahkan bisa disebut tonggak bersejarah, namun sayang kurang mendapat liputan dari media sehingga luput dari perhatian publik. Pembentukan satuan baru adalah untuk mengoptimalkan pelaksanaan tugas TNI, khususnya di daerah-daerah perbatasan dan pulau-pulau terluar. Pembentukan brigif baru tersebut bisa dianggap pula sebagai upaya meningkatkan 'posisi tawar' TNI atas negeri tetangga (terutama Malaysia). Karena secara geografis, Indonesia memiliki garis perbatasan yang sangat panjang dengan Malaysia. Sudah sekian kali terjadi insiden perbatasan dengan Malaysia, baik di darat maupun di laut.
Satu hal yang harus kita ingat, wilayah perbatasan bukan sekadar patok atau garis geografis, melainkan juga merupakan manifestasi martabat bangsa. Perbatasan negara sebagai manifestasi kedaulatan wilayah memiliki peran penting dan strategis bagi pertahanan negara. Sebagai variabel martabat bangsa, kawasan perbatasan perlu mendapat perhatian, semisal dengan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat karena sebenarnya merekalah ujung tombak penjagaan perbatasan.
Daerah perbatasan (darat) merupakan daerah yang terpencil, baik secara geografis maupun sosial-ekonomi sehingga masyarakatnya benar-benar termarginalkan. Rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat menimbulkan ekses seperti penebangan liar, pelintas batas, hingga yang paling jauh, semisal menjadi milisi negara tetangga. Semata-mata itu adalah soal 'sembako', yang menjadi tidak relevan bila dihubungkan dengan semangat nasionalisme.
Konsep seperti nasionalisme atau patriotisme tidak bisa dibebankan kepada rakyat, termasuk yang bermukim di perbatasan. Bila ada masyarakat perbatasan yang mencari nafkah di negeri tetangga, kita tidak bisa buru-buru mengklaim telah terjadi degradasi nasionalisme. Pemegang panji nasionalisme bukanlah rakyat, melainkan elite politik di Jakarta. Tentu para penentu kebijakan di Jakarta sudah paham benar bagaimana implementasi konsep nasionalisme tersebut di lapangan, seandainya terjadi lagi provokasi seperti insiden Blok Ambalat dan insiden Pulau Bawean.
Rakyat bisa paham sepenuhnya bila provokasi semacam itu dibalas dengan tindakan yang lebih keras. Kalau kapal kita ditabrak, jangan segan-segan untuk balas menabrak, kalau perlu terus diburu. Karena ini adalah soal kehormatan bangsa. Termasuk dalam hal psywar. Misalnya dengan lebih meningkatkan frekuensi latihan satuan elite, semacam Kopassus atau Yontaifib Marinir di daerah perbatasan seraya memperkuat moril masyarakat setempat.
Persepsi kekuasaan
Selain nasionalisme, ada satu konsep lagi yang biasanya selalu dihubungkan dengan TNI yaitu kekuasaan. Wajar bila masih muncul wacana bagaimana keterkaitan TNI dengan kekuasaan pascareformasi, khususnya terhadap Kopassus, yang di masa lalu sering dianggap sebagai 'mesin kekuasaan' Orde Baru. Pasca-10 tahun reformasi, ternyata ada perkembangan menarik yaitu soal cara pandang perwira terhadap kekuasaan. Berbeda dengan perwira di masa Orde Baru, perwira generasi sekarang menyikapi kekuasaan dengan cara yang lebih wajar.
Perwira generasi sekarang umumnya tidak terlalu membangga-banggakan pangkat dan jabatannya. Mereka telah belajar dari sejarah bahwa sikap seperti itu hanya akan menjatuhkan citra TNI di mata rakyat. Tentu itu adalah buah dari reformasi juga. Di satu sisi, reformasi telah membawa negeri ini menjadi lebih demokratis. Namun di saat bersamaan, kesejahteraan rakyat masih memprihatinkan. Karena itu, pandangan perwira sekarang berkenaan dengan pangkat dan jabatannya sudah sesuai dengan konteks zamannya.
Justru pejabat sipil yang kini terlihat berbalik arah. Pernah diberitakan, unsur pimpinan Dinas Tramtib DKI membanggakan kemampuannya menggunakan senjata laras pendek (Indo Pos, 23 November 2007). Padahal sudah jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya. Kemudian cukup sering kita lihat, pejabat setingkat bupati atau wali kota, saat berkendaraan, memakai prosedur pembuka jalan (voorijder), padahal arus lalu lintas sedang tidak macet. TNI sendiri sudah meninggalkan prosedur protokoler tersebut dan kini hanya dilakukan secara terbatas untuk pejabat setingkat pangdam atau kepala staf. Perilaku semacam itu merupakan anomali pascareformasi. Bagaimana mungkin yang muncul ternyata megalomania pejabat sipil.
Perwira generasi sekarang bisa belajar (bedakan dengan meniru) perjalanan salah satu ikon baret merah, Letjen TNI Purn Prabowo Subianto. Kita semua masih ingat, bagaimana tragedi telah mendera Prabowo, dari perwira muda yang sangat cemerlang, meraih pangkat bintang tiga dalam usia belum genap 50, dan hanya dalam hitungan hari Prabowo menjadi warga biasa. Karier militernya kandas sebagai imbas turbulensi reformasi Mei 1998 lalu.
Bila kini Prabowo bisa bangkit kembali, tentu ada nilai tersendiri pada dirinya. Dari perwira yang terpinggirkan, bermetamorfosa menjadi tokoh publik kembali, hampir mendekati pencapaiannya dulu. Secara perlahan resistensi publik berhasil ia netralkan, terbukti dengan dipercayanya memimpin HKTI, ormas petani tertua dan terbesar. Setidaknya ada dua alasan yang ikut mendongkrak kembali figur Prabowo. Pertama, terlepas dari usaha kerasnya sendiri, bagaimanapun Prabowo adalah bagian dari keluarga besar Baret Merah sehingga apresiasi publik tetap bisa dia peroleh. Kedua, dengan caranya sendiri, Prabowo telah berhasil keluar dari bayang-bayang 'keluarga Cendana'.
Sumber : OPINI Media Indonesia OnLine
Baret Merah dan 10 Tahun Reformasi
Ditulis oleh : Aris Santoso, Pengamat TNI
Saat masih menjadi Komandan Kopassus (1992-1993), Brigjen TNI Tarub (terakhir Kasum TNI, pangkat letjen), pernah mengatakan, "Sekarang adalah kondisi ketidakpastian yang membuat kita harus lebih siap lagi." Meski telah dilontarkan sekitar 15 tahun berselang, pernyataan tersebut masih terdengar relevan. Satu dasawarsa pascareformasi, secara gamblang kita menyaksikan belum adanya perbaikan berarti, khususnya bagi perbaikan kualitas kehidupan rakyat. Bukan hanya pada aspek konkret, seperti soal pemenuhan sembako, melainkan juga pada aspek moril, seperti semakin merosotnya martabat kita sebagai bangsa.
Kopassus, sebagai satuan elite TNI yang sudah terpandang sejak kelahirannya (16 April 1952), kiranya dapat memberi makna pada aspek moril tersebut. Bahwa di tengah miskinnya aset kebanggaan, masih ada Kopassus yang bisa sedikit 'menyelamatkan' wajah kita di hadapan bangsa-bangsa lain, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Bukan berlebihan, setidaknya ada dua negara di Asia Tenggara yang pembentukan pasukan komandonya banyak didukung oleh Kopassus yaitu Kamboja dan Malaysia. Bahkan di Malaysia terdapat asosiasi yang menghimpun alumni pendidikan komando di Batujajar bernama KBKM (Kelab Bekas Komando Malaysia).
Seiring dengan semakin terbatasnya palagan pertempuran, satuan seperti Kopassus menjadi semakin jarang diturunkan, namun bukan berarti peran Kopassus menjadi berkurang. Bila mengutip pernyataan Jenderal Tarub di atas, dalam kondisi ketidakpastian, berarti unit Sandi Yudha dan kontra teror (Satgultor 81) justru semakin dibutuhkan keberadaannya. Kemampuan Kopassus di bidang intelijen (sandi yudha) dan kontra teror tentu bisa memberi efek penangkalan (deterrent effect), terutama bagi pihak luar. Karena di masa depan, diperkirakan, kecil kemungkinan akan adanya perang terbuka di kawasan Asia Tenggara yang lebih mungkin adalah perang opini dan psywar, seperti berlomba-lomba dalam modernisasi alutsista dan provokasi kecil-kecilan antarnegara di wilayah perbatasan.
Nasionalisme dan kesejahteraan
Dalam hal alutsista, posisi Kopassus sedikit diuntungkan karena sifat kesenjataannya. Dari aspek teknologi, persenjataan perseorangan Kopassus (Gariel dan MP5), masih bisa diandalkan hingga beberapa tahun ke depan. Kopassus tidak menghadapi problem seperti satuan lain di matra darat, seperti satuan rudal dengan alustsista padat teknologi dan harus selalu diperbarui menjadikan harganya sangat mahal. Belum lagi kalau kita bicara soal keterbatasan alutsista di matra laut dan matra udara, jelas lebih kompleks lagi. Tiadanya masalah dalam alutsista merupakan hal kondusif bagi Kopassus untuk mempertahankan reputasinya sebagai satuan Komando yang disegani pasukan negara lain.
Pada April 2007, KSAD Jenderal TNI Djoko Santoso (kini Panglima TNI) meresmikan berdirinya lima brigade infanteri (brigif) baru. Sebuah peristiwa penting sebenarnya, bahkan bisa disebut tonggak bersejarah, namun sayang kurang mendapat liputan dari media sehingga luput dari perhatian publik. Pembentukan satuan baru adalah untuk mengoptimalkan pelaksanaan tugas TNI, khususnya di daerah-daerah perbatasan dan pulau-pulau terluar. Pembentukan brigif baru tersebut bisa dianggap pula sebagai upaya meningkatkan 'posisi tawar' TNI atas negeri tetangga (terutama Malaysia). Karena secara geografis, Indonesia memiliki garis perbatasan yang sangat panjang dengan Malaysia. Sudah sekian kali terjadi insiden perbatasan dengan Malaysia, baik di darat maupun di laut.
Satu hal yang harus kita ingat, wilayah perbatasan bukan sekadar patok atau garis geografis, melainkan juga merupakan manifestasi martabat bangsa. Perbatasan negara sebagai manifestasi kedaulatan wilayah memiliki peran penting dan strategis bagi pertahanan negara. Sebagai variabel martabat bangsa, kawasan perbatasan perlu mendapat perhatian, semisal dengan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat karena sebenarnya merekalah ujung tombak penjagaan perbatasan.
Daerah perbatasan (darat) merupakan daerah yang terpencil, baik secara geografis maupun sosial-ekonomi sehingga masyarakatnya benar-benar termarginalkan. Rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat menimbulkan ekses seperti penebangan liar, pelintas batas, hingga yang paling jauh, semisal menjadi milisi negara tetangga. Semata-mata itu adalah soal 'sembako', yang menjadi tidak relevan bila dihubungkan dengan semangat nasionalisme.
Konsep seperti nasionalisme atau patriotisme tidak bisa dibebankan kepada rakyat, termasuk yang bermukim di perbatasan. Bila ada masyarakat perbatasan yang mencari nafkah di negeri tetangga, kita tidak bisa buru-buru mengklaim telah terjadi degradasi nasionalisme. Pemegang panji nasionalisme bukanlah rakyat, melainkan elite politik di Jakarta. Tentu para penentu kebijakan di Jakarta sudah paham benar bagaimana implementasi konsep nasionalisme tersebut di lapangan, seandainya terjadi lagi provokasi seperti insiden Blok Ambalat dan insiden Pulau Bawean.
Rakyat bisa paham sepenuhnya bila provokasi semacam itu dibalas dengan tindakan yang lebih keras. Kalau kapal kita ditabrak, jangan segan-segan untuk balas menabrak, kalau perlu terus diburu. Karena ini adalah soal kehormatan bangsa. Termasuk dalam hal psywar. Misalnya dengan lebih meningkatkan frekuensi latihan satuan elite, semacam Kopassus atau Yontaifib Marinir di daerah perbatasan seraya memperkuat moril masyarakat setempat.
Persepsi kekuasaan
Selain nasionalisme, ada satu konsep lagi yang biasanya selalu dihubungkan dengan TNI yaitu kekuasaan. Wajar bila masih muncul wacana bagaimana keterkaitan TNI dengan kekuasaan pascareformasi, khususnya terhadap Kopassus, yang di masa lalu sering dianggap sebagai 'mesin kekuasaan' Orde Baru. Pasca-10 tahun reformasi, ternyata ada perkembangan menarik yaitu soal cara pandang perwira terhadap kekuasaan. Berbeda dengan perwira di masa Orde Baru, perwira generasi sekarang menyikapi kekuasaan dengan cara yang lebih wajar.
Perwira generasi sekarang umumnya tidak terlalu membangga-banggakan pangkat dan jabatannya. Mereka telah belajar dari sejarah bahwa sikap seperti itu hanya akan menjatuhkan citra TNI di mata rakyat. Tentu itu adalah buah dari reformasi juga. Di satu sisi, reformasi telah membawa negeri ini menjadi lebih demokratis. Namun di saat bersamaan, kesejahteraan rakyat masih memprihatinkan. Karena itu, pandangan perwira sekarang berkenaan dengan pangkat dan jabatannya sudah sesuai dengan konteks zamannya.
Justru pejabat sipil yang kini terlihat berbalik arah. Pernah diberitakan, unsur pimpinan Dinas Tramtib DKI membanggakan kemampuannya menggunakan senjata laras pendek (Indo Pos, 23 November 2007). Padahal sudah jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya. Kemudian cukup sering kita lihat, pejabat setingkat bupati atau wali kota, saat berkendaraan, memakai prosedur pembuka jalan (voorijder), padahal arus lalu lintas sedang tidak macet. TNI sendiri sudah meninggalkan prosedur protokoler tersebut dan kini hanya dilakukan secara terbatas untuk pejabat setingkat pangdam atau kepala staf. Perilaku semacam itu merupakan anomali pascareformasi. Bagaimana mungkin yang muncul ternyata megalomania pejabat sipil.
Perwira generasi sekarang bisa belajar (bedakan dengan meniru) perjalanan salah satu ikon baret merah, Letjen TNI Purn Prabowo Subianto. Kita semua masih ingat, bagaimana tragedi telah mendera Prabowo, dari perwira muda yang sangat cemerlang, meraih pangkat bintang tiga dalam usia belum genap 50, dan hanya dalam hitungan hari Prabowo menjadi warga biasa. Karier militernya kandas sebagai imbas turbulensi reformasi Mei 1998 lalu.
Bila kini Prabowo bisa bangkit kembali, tentu ada nilai tersendiri pada dirinya. Dari perwira yang terpinggirkan, bermetamorfosa menjadi tokoh publik kembali, hampir mendekati pencapaiannya dulu. Secara perlahan resistensi publik berhasil ia netralkan, terbukti dengan dipercayanya memimpin HKTI, ormas petani tertua dan terbesar. Setidaknya ada dua alasan yang ikut mendongkrak kembali figur Prabowo. Pertama, terlepas dari usaha kerasnya sendiri, bagaimanapun Prabowo adalah bagian dari keluarga besar Baret Merah sehingga apresiasi publik tetap bisa dia peroleh. Kedua, dengan caranya sendiri, Prabowo telah berhasil keluar dari bayang-bayang 'keluarga Cendana'.
Sumber : OPINI Media Indonesia OnLine
PRIA SEJATI^^
Based on True Story..
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja
bahkan sudah mendekati malam,pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi
dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. mereka menikah
sudah lebih 32 tahun
Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa,setelah
istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa
digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh
tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah
tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan
mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia
letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.
Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya
tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari
rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan
siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan
selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan
apa2 saja yg dia alami seharian.
Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak
suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap
berangkat tidur.
Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia
merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka,
sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka
sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal
dengan keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan ibu mereka Dia yg
merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.
Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata " Pak kami ingin
sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada
sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak.bahkan bapak tidak ijinkan kami
menjaga ibu" .
dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "sudah yg keempat
kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi ,kami rasa ibupun akan
mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban
seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak,kami janji kami akan
merawat ibu bergantian".
Pak suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka." Anak2ku
Jikalau hidup didunia ini hanya untuk nafsu Mungkin bapak akan menikah,
tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari
cukup, dia telah Melahirkan kalian".. sejenak kerongkongannya tersekat,
kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak
satupun dapat menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia
menginginkan keadaanya seperti Ini. kalian menginginkan bapak bahagia,
apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya
sekarang". kalian menginginkan bapak yg masih diberi Allah kesehatan
dirawat oleh orang lain bagaimana dengan ibumu yg masih sakit. Sejenak
meledaklah tangis anak2 pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh
dipelupuk mata ibu suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat
dicintainya itu..
Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta
untuk menjadi nara sumber diacara islami Selepas shubuh dan merekapun
mengajukan pertanyaan kepada pak suyatno kenapa mampu bertahan selama 25
tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2..disaat itulah meledak
tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun
tidak sanggup menahan haru disitulah pak suyatno bercerita".
Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta tapi dia tidak mencintai
karena Allah semuanya akan luntur. Saya memilih istri saya menjadi
pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat
saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia
memberi saya 4 orang anak yg lucu2..
Sekarang dia sakit berkorban untuk saya karena Allah..dan itu merupakan
ujian bagi saya, sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia
sakit,,,setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya dapat bercerita
kepada Allah
Diatas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk
menyimpan dan mendengar rahasia saya
Nb:Semoga kita bisa lbh merenungkan ini n wish be the Better Man^^
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja
bahkan sudah mendekati malam,pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi
dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. mereka menikah
sudah lebih 32 tahun
Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa,setelah
istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa
digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh
tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah
tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan
mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia
letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.
Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya
tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari
rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan
siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan
selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan
apa2 saja yg dia alami seharian.
Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak
suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap
berangkat tidur.
Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia
merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka,
sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka
sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal
dengan keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan ibu mereka Dia yg
merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.
Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata " Pak kami ingin
sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada
sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak.bahkan bapak tidak ijinkan kami
menjaga ibu" .
dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "sudah yg keempat
kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi ,kami rasa ibupun akan
mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban
seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak,kami janji kami akan
merawat ibu bergantian".
Pak suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka." Anak2ku
Jikalau hidup didunia ini hanya untuk nafsu Mungkin bapak akan menikah,
tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari
cukup, dia telah Melahirkan kalian".. sejenak kerongkongannya tersekat,
kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak
satupun dapat menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia
menginginkan keadaanya seperti Ini. kalian menginginkan bapak bahagia,
apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya
sekarang". kalian menginginkan bapak yg masih diberi Allah kesehatan
dirawat oleh orang lain bagaimana dengan ibumu yg masih sakit. Sejenak
meledaklah tangis anak2 pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh
dipelupuk mata ibu suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat
dicintainya itu..
Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta
untuk menjadi nara sumber diacara islami Selepas shubuh dan merekapun
mengajukan pertanyaan kepada pak suyatno kenapa mampu bertahan selama 25
tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2..disaat itulah meledak
tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun
tidak sanggup menahan haru disitulah pak suyatno bercerita".
Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta tapi dia tidak mencintai
karena Allah semuanya akan luntur. Saya memilih istri saya menjadi
pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat
saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia
memberi saya 4 orang anak yg lucu2..
Sekarang dia sakit berkorban untuk saya karena Allah..dan itu merupakan
ujian bagi saya, sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia
sakit,,,setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya dapat bercerita
kepada Allah
Diatas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk
menyimpan dan mendengar rahasia saya
Nb:Semoga kita bisa lbh merenungkan ini n wish be the Better Man^^
Subscribe to:
Posts (Atom)


