Siapa yang tidak terpaku lesu melihat bangsa lain kian maju kedepan, kita justru mundur pelamn pelan ke belakang ? Kalau anda pencari kerja, apakah tidak risau melihat sempitnya lapangan pekerjaan, dan penuhnya peminat kerja? kalau anda orang tua, apakah tidak mulai kalangkabut ketika biaya pendidikan membumbung tinggi? sekarang, gimana dengan nanti?
Seorang mantan petinggi ASEAN di Kuala Lumpur mengatakan kepada seorang rekan "Indonesia is a difficult country"...pernyataan yang membuat saya terhenyak, terkejut, dan akhirnya.......(apa boleh buat) maklum. Di Solomon Islands, negeri kecil nan miskin jauh di pedalaman samudera pacific, salah seorang penduduknya bilang ..."Indonesia used to be my dream, now it become a nightmare". Tertunduk lesu saya dibuatnya, sungguh.
Apakah kita sendirian ? Tidak tentu saja, banyak negara lain yang senasib dengan kita saat ini, Philipine adalah salah satu contohnya, mungkin juga argentina. Bisa jadi, banyak lagi. Tapi sesungguhnya, saya bisa menyamakan kondisi kita saat ini dengan ....Russia, bukan sekarang, akan tetapi russia di masa Yeltsin. Apa saja kondisi yang sama?
Mari kita lihat :
1. Russia dan Indonesia adalah sama sama negeri yang kaya raya, melimpah sumber daya alamnya, luas wilayahnya. Dalam hal ini, Indonesia lebih kaya di potensi laut. Minyak, gas bumi, bahan tambang lain, bisa ditemui dengan 'mudah' di dua negeri ini.
2. Russia, selepas pecahnya Uni Sovyet, dan Indonesia selepas keruntuhan orde baru, sama sama terbuai oleh buaian and bujukan barat dan menjalankan demokrasi secara lepas, sesuai model dan 'keinginan' barat. Demokrasi di negara itu dan negara kita sama sama menjadikan rakyat terpecah belah, hilang rasa nasionalisme, minyak minyak dikuasai para oligarki, pengaruh barat di belakang Yeltsin kuat sekali. Semakin banyak orang yang memikirkan diri sendiri, kelompoknya, berpikir sempit, pendek, dan pragmatis. Perlu diketahui, bahwa sebagian besar eropa maju bukan karena demokrasi mereka, tapi karena tingkat edukasi dan posisi yang memang strategis untuk memajukan ekonomi. Kita lupa, bahwa negara2 non barat yang menjalankan demokrasi, justru 'tidak pernah' maju...lihat saja Sri Lanka, Bangladesh, Pakistan, Philipines, dan beberapa negara afrika. Sementara, negara non barat yang menjalankan demokrasi terbatas dan 'terkontrol', justru mampu berbuat banyak untuk memajukan bangsanya...lihatlah Singapore, Malaysia, (sebentar lagi) Vietnam, Korea Selatan, dan yang paling menonjol tentu saja China. Sekali lagi, demokrasi (hampir) tidak ada hubungannya dengan kemajuan ekonomi. Lalu apa? pikirkan sendiri...
3. Dulu Uni Sovyet adalah negara dengan ekonomi kuat, pendidikan yang maju, dan disegani. Rusia (setelah Uni Sovyet) semasa Yeltsin adalah bangsa besar yang pesakitan, rusuh sana sini, antri roti, antri BBM, kekacauan distribusi ekonomi, dan ...menjada bahan tertawaan barat. Tahun 1990-1998, Russia adalah negara yang membayar tentaranya dengan sayur-sayuran, dan berutang banyak, $ 70 milyar dollar (sama dengan Indonesia) untuk membiayai operasi negaranya. Toh, hal itu tidak mampu membuatnya pulih seperti dulu kala, malah makin menjerumuskan, satu hal yang disadari agak terlambat oleh bangsa ini. Waktu itu, anak anak muda Rusia mulai merindukan masa masa jaya jaman Uni Sovyet dulu, dimana rakyat bangga akan negaranya. Lalu muncul sang penyelamat, Vladimir Putin..cerita selanjutnya kita sudah tau sendiri...kota Moskow adalah kota yang mempunyai proporsi orang kaya tertinggi di seluruh dunia. Russia dengan lancar membayar DENDA hampir $1 milyar karena........MEMBAYAR LUNAS UTANGNYA SEBELUM JATUH TEMPO !! Semua karena kebijakan ekonomi Putin yang tegas, dan berpikir akan kemajuan Russia, seratus tahun dari sekarang. Kebanyakan pemangku jabatan di negeri ini berpikir hanya.....4 tahun kedepan, dan tahun ke lima sibuk berkampanye....
4. Jaman Yeltsin, pers dilepas bebas luar biasa, tanpa kontrol, tanpa tanggung jawab, dan hampir setiap hari menuntut, menjelek2kan, mengolok2 pemerintahnya. Persis seperti kita sekarang ini.

Salah satu peninggalan kejayaan Indonesia masa lalu....

Panen raya, sebuah memori indah masa lalu..

Program KB, bukti terencananya pemerintahan masa lalu
Meski pengaruh Indonesia jaman dulu tidaklah sekuat Rusia, namun bagaimanapun, bangsa kita pernah 'menikmati' kejayaan menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, politik yang stabil, Foreign Direct Invesment (FDI) tertinggi di kawasan regional, militer yang disegani dan kuat, rakyat yang makmur dan tenteram, pemerintah yang berfungsi baik dan sebagainya. Masa masa tahun 1976-1992, adalah masa keemasan itu, faktor utamanya adalah kepemimpinan yang kuat, aturan yang transparan, rakyat yang mau diatur, dan kehidupan politik yang terkendali. Mungkin banyak orang akan protes pada remark saya di atas, namun sungguh naif kalau ada yang membantah bahwa jaman orde baru adalah masa yang stabil, pertumbuhan ekonominya mantab, dan bangsa kita sangat disegani.
Saya yakin 100%, kalau kita biarkan kondisi kita seperti sekarang ini tanpa berbuat sesuatu DARI SEKARANG, dalam 15-20 tahun ke depan, kita akan berakhir seperti Philipine yang tanpa harapan...(kata orang philipine sendiri). Dalam satu kesempatan, Wimar Witoelar menyatakan bahwa demokrasi di negeri ini sudah melewati masa masa gelap malam, saat ini kita ada di jam jam 2-2.30 dini hari, bentar lagi pagi, penuh sinar mentari. BULLPIT , komentar seorang pemikir yang menggelikan dan tidak masuk akal, dimana sungguh nyata bahwa demokrasi sama sekali tidak mampu mengangkat harga diri bangsa ini, dan barat yang kita agung agungkan, tetap saja 'mengolok-olok' kita dengan berbagai cara. Contoh ? Carilah sendiri, bung Wimar.
Salah seorang amerika teman saya di Jogja bilang bahwa demokrasi di indonesia ini hanya masalah pemilu, pilkada, demonstrasi, dan pers yang bebas saja, tidak diimbangi dengan berbagai hal, seperti pendidikan, dan kontrol keuangan negara. Otonomi adalah salah satu blunder besar bangsa ini, yang susah disembuhkan. Amerika membutuhkan ratusan tahun untuk bisa seperti sekarang ini, demokrasi di India masih penuh dengan darah, dan kerusuhan kerusuhan, meski sudah puluhan tahun berdemokrasi. Ingat, tahun 70an, Philipina adalah negara yang paling diminati investor, dan termaju kedua setelah Jepang, lihatlah sekarang kondisinya ketika demokrasi dipaksakan.
So, adalah non sense besar seorang Wimar Witoelar mengatakan demokrasi kita hampir sampai. Sampai mana, bung? (Semoga dia baca ini....!)
beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mengubah bangsa kita ni untuk kembali ke masa kejayaan :
1. Mengendalikan dan mengontrol media (terutama TV), dan menghilangkan fungsi 'provokatifnya'. Di negara manapun yang saya kunjungi, fungsi edukatif dan membangun kebanggaan pada bangsanya, adalah menjadi prioritas utama, tentu dengan cara yang berbeda beda. Singapore, lebih mirip dengan China dan Malaysia, Inggris, lebih mirip Jepang, dan Korea. Amerika, bebas tapi professional, jangan harap ada berita di TV2 amerika memberitakan satu pohon tumbang, sapi yang lepas dari kandang, perkosaan, pembunuhan, kerusuhan, dan lain lain, seperti di TV TV kita. Ada ribuan topik berita yang bagus dan layak jual, dibandingkan berita berita buruk sepanjang waktu. Bagi orang orang TV (semoga membaca ini), di perusahaan manapun di dunia, selalu ada fungsi marketing sebagai salah satu elemen terpenting. TV anda pun perlu marketing, perusahaan saya juga perlu marketing. Anda lebih tau, gimana cara menjual agar calon customer terkesan. Nah, ibaratkan, bangsa ini adalah sebuah korporasi besar, dan salah satu marketingnya adalah anda anda. Lalu, silakan bertanya ke dalam, apakah anda adalah marketer yang bagus selama ini? apakah berita berita anda semakin menambah investor masuk, turis masuk, pelajar dan mahasiswa masuk? ATAU SEBALIKNYA ??
2. STOP PILKADA !! Energi kita terkuras cukup banyak di situ, beneran. Berapa ratus trilyun habis untuk pilkada pilkada itu, berapa uang yang disebar sebar untuk menyuap, berapa polisi yang harus meninggalkan pos-nya untuk menjaga pilkada, berapa harga sebuah konflik antar para pendukung? belum puaskah kita saling berkelahi sehingga harus ditambah sebuah ajang baru bernama PILKADA? Saat ini, gubernur bisa menolak diundang presiden, presiden pun kesulitan mengambil tindakan disiplin, bupati (sering) menolak datang menghadap gubernur, dan seterusnya sampai kebawah. Alasannya jelas, SAYA DIPILIH OLEH RAKYAT SAYA, ANDA NGGAK BERHAK NGATUR SAYA, (kalau mau diterusin...SAYA UDAH KELUAR DUIT BANYAK, SUAP SANA SUAP SINI, MASIH NGURUSIN ADMINISTRATIP...haha.). Selain itu, poster poster parpol dan foto2 calon peserta pilkada bikin kotor pemandangan (DAN BIKIN MUAK !!)
3. Naikkan "nilai" Rupiah. Pasti banyak yang mendukung. Sebenarnya naik bukan nilainya, tapi 'prestige'nya. Hilangin 3 angka nol dibelakang, atau kalau terlalu cepet, ganti 3 angka nol dengan tulisan "ribu" aja, sebelum lama lama diilangin. Turki pernah melakukan sanering ini, dan sukses ! Sori, ini untuk mengangkat 'harga diri' orang indonesia, membuat mereka tidak perlu menunduk dalam dalam lagi.
4. NASIONALISASI perusahaan2 pertambangan dan perusahaan perusahaan strategis lainnya. Inilah cara jitu Russia, Bolivia, Venezuela, menaikkan pendapatan nasionalnya. Bolivia, pendapatannya naik 6 kali lipat dari hasil nasionalisasi minyak dan gas buminya, Venezuela bahkan sudah menaikkan anggaran buat pendidikannya 7 kali lipat. Russia??? Inilah contoh yang mau saya tekan tekankan di sini. Setelah Putin berkuasa, perlahan lahan demokrasi ala barat (yang sebenarnya tidak layak ditiru), ditinggalkan oleh Russia,dan mengadopsi sistem yang lebih bisa diadaptasikan di Russia yang dikenal dengan Demokrasi Kedaulatan, di tengah kesulitan kesulitan yang ditinggalkan Yeltsin. Lihatlah, GazProm...saat ini menjadi perusahaan minyak paling progresif, dan paling berpengaruh. Sukhoi kembali naik pamor, terakhir meluncurkan pesawat komersial Sukhoi Superjet 100 yang luar biasa, banyak lagi.

Sukhoi Superjet100 - Russian Pride

Gazprom Headquarter - Moskva
5. Perkuat MILITER...nggak perlu nambah personel, mending nambah teknologi dan peralatan saja. JANGAN beli apapun dari barat yang menjual senjata dengan syarat aneh aneh, termasuk salah satunya kita ingat, Inggris menjual tank Scorpion, tapi tidak boleh untuk berperang. Mungkin inggris ingin tanknya dipakai untuk membajak sawah atau buat gantungan kunci...(heran bener). Banyakin kapal tempur, kapal penjelajah, radar, pesawat tempur, dan pastikan bahwa orang orang di militer adalah orang orang yang kuat secara ilmu dan teknologi. Militer kita mungkin tidak akan pernah berperang dengan negara lain secara perang terbuka, akan tetapi dengan doktrin perag modern dimana perang dilakukan dengan skala kecil dan rahasia namun memiliki intensitas tinggi jadi fungsi fungsi intelejen harus bener2 ditekankan.
6. Bikin infrastruktur yang baik, terutama di kota kota dan daerah2 utama, untuk mengundang investor, dan turis, yang paling mendesak adalah :
- Jalan Tol, atau minimal jalan yang lebih lebar
- Gedung terminal Airport yang lebih baik
- Pelabuhan yang luas dan mampu mengakomodir kapal kapal paling besar sekalipun
- Pembenahan transportasi massal di kota kota besar, atau di kota kota wisata.
7. Masih banyak sebenarnya, tapi yang paling mendesak adalah membangkitkan kembali nasionalisme berbangsa, kebanggaan menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Sekali lagi, media massa akan sangat sangat sangat berperan kalau mau, bukan malah melunturkan semangat itu, seperti yang mereka lakukan saat ini.
8. Mungkin yang juga tidak kalah penting, bikin CENTER FOR STRATEGIC INFLUENCE, menyebarkan berita konstruktif ttg indonesia ke dunia luar.
Tugasnya memang berat, tapi rasanya sangat mungkin dilakukan, dengan biaya yang mungkin sangat besar. Besar? tidak juga....toh pemilu kita sudah membuat kita cukup bangkrut....alihkan itu untuk membangun secara terencana, committed, dan sustainable.
INDONESIA...BISA !!

0 comments:
Post a Comment